PASURUAN – Dalam upaya memperkokoh kualitas pendidikan anak usia dini di tengah arus percepatan teknologi, Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kabupaten Pasuruan menggelar workshop strategis bertajuk Transformasi Pembelajaran melalui Growth Mindset & Digitalisasi Pembelajaran.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28-29 April 2026, bertempat di Hotel Tretes View, Prigen, ini diikuti oleh tidak kurang dari 632 pendidik PAUD se-Kabupaten Pasuruan. Antusiasme tinggi terlihat dari sistem gelombang yang diterapkan; sebanyak 307 peserta hadir pada hari pertama, disusul 325 peserta pada hari kedua.
Apresiasi dari Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan, Tri Krisni Astuti, S.Sos., MM, secara langsung membuka acara dan memberikan apresiasi mendalam. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa era digital menuntut pendidik untuk beradaptasi secara fundamental.
"Transformasi pendidikan tidak semata tentang perangkat keras. Lebih dari itu, ini tentang pola pikir (growth mindset). Guru PAUD di Pasuruan harus melek digital, namun tetap hangat dalam mendidik," tegas Tri Krisni Astuti di hadapan para peserta.
Narasumber: Digitalisasi Adalah Instrumen, Bukan Pengganti
Senada dengan hal tersebut, tokoh pendidikan Suwarti, S.Pd,AUD, M.Pd., menekankan bahwa guru tidak perlu khawatir tergantikan oleh mesin. Menurutnya, digitalisasi bersifat sebagai alat bantu interaktif.
“Kita harus keluar dari zona nyaman. Aplikasi dan gawai bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan untuk membuat materi lebih mudah diserap oleh anak usia dini,” jelas Suwarti.
Ketua Himpaudi: Antusiasme Guru PAUD Luar Biasa
Ketua Himpaudi Kabupaten Pasuruan, Khoiriyah, S.Pd, M.Pd, menyampaikan rasa syukurnya atas partisipasi aktif para anggota. Pembagian dua gelombang dilakukan demi menjaga efektivitas materi.
"Total 632 pendaftar adalah angka yang luar biasa. Ini membuktikan guru PAUD di Pasuruan haus akan inovasi," ujar Khoiriyah.
Sementara itu, Suhadak, S.Ag., turut memberikan pandangan mendalam terkait ekosistem digital di lembaga PAUD. Menurutnya, transformasi pembelajaran tidak akan berjalan optimal tanpa pendampingan struktural dari pimpinan.
"Pembelajaran digital yang mendalam bukan sekadar mengenalkan gawai kepada anak. Ini tentang bagaimana guru menyusun konten interaktif yang bermakna. Dan itu tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Kepala lembaga harus turun langsung melakukan supervisi kelas secara rutin, memastikan metode digital yang digunakan tepat sasaran dan tidak keluar dari koridor pendidikan karakter," tegas Suhadak.
Ia menambahkan bahwa kepala lembaga wajib menjadi role model dalam adaptasi teknologi, karena tanpa supervisi yang kuat, dikhawatirkan proses belajar digital hanya berjalan setengah-setengah atau sekadar formalitas
Seperti pesan terakhir yang disampaikan di akhir sesi, menjadi guru PAUD adalah memulai segalanya dari awal. Bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk menjadi pondisi yang kokoh di bawah sadaran kecil anak-anak Pasuruan. Workshop ini ditutup dengan harapan: semoga para guru pulang bukan hanya dengan aplikasi baru di gawai mereka, tetapi dengan semangat baru di dada mereka.
Transformasi digital hanyalah jalan. Sentuhan tulus seorang gurulah yang menjadi tujuannya.
HIMPAUDI Jayaaa.. Pasuruan Bangkit Bersama Kita Bisa ..!!

.jpeg)